Tampilkan postingan dengan label Jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jantung. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

: Posted on Senin, 15 April 2013 - 05.13

Dengan batuk yang disengaja bisa jadi cara awal yang praktis untuk menangani serangan jantung mendadak. dr Iwan Dakota SpJP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa dengan batuk irama jantung bisa kembali menjadi normal. Namun, meskipun batuk bisa kembali menormalkan irama jantung bagi orang yang mengalami serangan jantung, tetap dihimbau untuk segera membawa pasien serangan jantung ke rumah sakit terdekat.
Katarak Bayi. Medical Line
Batuklah jika kena serangan jantung

Batuk bisa menormalkan irama denyut jantung seorang yang mengalami serangan jantung. "Batuk merupakan cara awal agar irama jantung tidak berhenti. Biasanya bagi penderita yang terkena serangan jantung mendadak, iramanya lambat, dengan batuk, irama jantung normal kembali," kata pakar penyakit jantung dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Iwan Dakota SpJP.

Iwan mengemukakan hal itu saat konferensi pers terkait teknologi penanganan penyakit jantung arteri koroner di Jakarta, Kamis. Iwan mengatakan dengan irama denyut jantung yang stabil, maka aktivitas pembuluh darah akan normal kembali. "Jadi si penderita disuruh batuk terlebih dahulu, karena dengan begitu jantung akan terangsang," katanya.

Namun, menurut dia, batuk bukan satu-satunya cara awal untuk menangani serangan jantung mendadak. "Sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut dan menghindari sudden death (kematian mendadak)," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Rumah sakit Jantung Harapan Kita dr Hananto Andriantoro SpJP(K) menjelaskan terdapat dua penyebab kematian mendadak karena serangan jantung, yakni tertutupnya pembuluh darah oleh plak dan gumpalan darah pada ujung dan pangkal arteri. "Jika penyumbatan tersebut terdapat pada ujung pembuluh, penderita masih bisa terselamatkan, namun jika hal sama terjadi pada pangkal arteri, kecil kemungkinan untuk bisa selamat," katanya.

Hartono menjelaskan plak tersebut terdiri dari akumulasi lemak, kolesterol, kalsium dan endapan lain pada dinding bagian dalam arteri. "Jadi plak tersebut awalnya menempel di dinding arteri dan lama-kelamaan menutupi pembuluh sehingga semakin sempit dan celah sempit tersebut tertutup gumpalan darah dan oksigen tidak bisa masuk, maka kematian mendadak tersebut terjadi," jelasnya.

Dia menambahkan proses plak menutupi dinding tersebut tergantung pada kadar kolesterol jahat (LDL) yang dimiliki penderita. Pada kondisi normal, kadar LDL berada di kisaran 130 mg/dL, namun jika sesorang yang memiliki berat badan lebih atau menderita obesitas, kadar LDL harus di bawah 100 mg/dL.

www.antaranews.com

Senin, 04 Februari 2013

: Posted on Senin, 04 Februari 2013 - 00.36

Cabai. Medical Line
Studi terbaru menunjukkan bahwa kandungan dalam cabai pedas bisa memiliki manfaat signifikan untuk melindungi seseorang dari penyakit jantung. Studi yang dipimpin oleh Profesor Zhen Yu Chen dari Chinese University of Hong Kong itu diungkapkan dalam forum National Meeting of American Chemical Society ke-243 di San Diego, Amerika Serikat. Dari pengujian mereka semakin terbukti, senyawa capsaicin yang memberikan rasa pedas pada cabai mampu meningkatkan kerja organ jantung.

Zat-zat capsaicinoid dalam capsaicin dapat mengurangi akumulasi kadar kolesterol pada tubuh, dengan meningkatkan kerusakan pada lemak jahat, kemudian membuangnya keluar lewat feses. Capsaicinoid memblokir cyclooxygenase-2, suatu gen yang membuat pembuluh arteri berkontraksi dan dapat menghalangi aliran darah ke jantung.

Capsaicinoid pun efektif memicu penurunan lemak di pembuluh darah. Lemak ini dapat mempersempit arteri dan memicu penyakit jantung atau stroke. Kesimpulannya, zat yang tergolong dalam capsaicinoid membantu meningkatkan kerja jantung dan kesehatan pembuluh darah.

Meski demikian, diingatkan Chen, konsumsi cabai yang berlebihan juga tidak direkomendasikan bagi kesehatan para penderita penyakit jantung. Sebab, cabai memang bukanlah pengganti dari obat-obatan penyakit jantung yang telah ada saat ini. "Pada dasarnya diet yang baik adalah diet yang seimbang. Cabai ini mungkin bisa dibilang sebagai suplemennya," imbuh pakar ilmu gizi dan pangan tersebut.

health.kompas.com

Senin, 08 Oktober 2012

: Posted on Senin, 08 Oktober 2012 - 03.51

Angina Pektoris (Angin Duduk)
Angina Pektoris

Angina Pektoris atau disebut juga Angin Duduk adalah penyakit jantung iskemik didefinisikan sebagai berkurangnya pasokan oksigen dan menurunnya aliran darah ke dalam miokardium. Gangguan tersebut bisa karena suplai oksigen yang turun (adanya aterosklerosis koroner atau spasme arteria koroner) atau kebutuhan oksigen yang meningkat. Sebagai manifestasi keadaan tersebut akan timbul Angina pektoris yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi infark miokard. Angina pektoris dibagi menjadi 3 jenis yaitu Angina klasik (stabil), Angina varian, dan Angina tidak stabil.

Angina klasik biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas fisik. Sedangkan Angina varian biasa terjadi saat istirahat dan biasa terjadi di pagi hari. Angina tidak stabil tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya, dapat terjadi saat istirahat dan bisa terjadi saat melakukan kegiatan fisik. Obat antiangina terdiri dari berbagai macam golongan. Pilihan terapi pengobatan antiangina meliputi golongan nitrat, beta bloker, dan Ca channel antagonis.

Definisi Dan Gejala-Gejala Angina

Angina (angina pectoris - Latin untuk dada yang digencet/ditekan) adalah ketidaknyamanan dada yang terjadi ketika ada suplai oksigen darah yang berkurang pada area dari otot jantung. Pada kebanyakan kasus-kasus, kekurangan suplai darah disebabkan oleh penyempitan dari arteri-arteri koroner sebagai akibat dari arteriosclerosis.

Angina biasanya dirasakan sebagai: tekanan, keberatan, pengetatan, pemerasan, atau nyeri diseluruh dada, terutama dibelakang tulang dada. Nyeri ini seringkali menyebar ke leher, rahang, lengan-lengan, punggung, atau bahkan gigi-gigi.

Pasien-pasien mungkin juga menderita: salah cerna (indigestion), heartburn (nyeri di hulu hati), kelemahan, berkeringat, mual, kejang, dan sesak napas.

Angina biasanya terjadi waktu latihan, stres emosi yang parah, atau setelah makan yang berat. Selama periode-periode ini, otot jantung menuntut lebih banyak oksigen darah daripada arteri-arteri yang menyempit dapat berikan. Angina secara khas berlangsung dari 1 sampai 15 menit dan dibebaskan dengan istirahat atau dengan menempatkan tablet nitroglycerin dibawah lidah. Nitroglycerin mengendurkan pembuluh-pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Keduanya istirahat dan nitroglycerin mengurangi permintaan otot jantung untuk oksigen, jadi membebaskan angina.

Angina digolongkan dalam satu dari dua tipe-tipe:
  1. stable angina (angina yang stabil)
  2. unstable angina (angina yang tidak stabil)
Stable angina adalah tipe yang paling umum dari angina, dan adalah apa yang dimaksudkan oleh kebanyakan orang-orang ketika mereka merujuk pada angina. Orang-orang dengan stable angina mempunyai gejala-gejala angina pada basis yang reguler dan gejala-gejalanya sedikit banyaknya dapat diprediksi (contohnya, menaiki tangga-tangga menyebabkan nyeri dada). Untuk kebanyakan pasien-pasien, gejala-gejalanya terjadi selama pengerahan tenaga dan umumnya berlangsung kurang dari lima menit. Mereka dibebaskan dengan istirahat atau obat, seperti nitroglycerin dibawah lidah.

Unstable angina adalah kurang umum dan lebih serius. Gejala-gejala lebih parah dan kurang dapat diprediksi daripada pola-pola dari stable angina. Lebih dari itu, nyeri-nyerinya lebih sering, berlangsung lebih lama, terjadi waktu istirahat, dan tidak dibebaskan dengan nitroglycerin dibawah lidah (atau pasien perlu untuk menggunakan lebih banyak nitroglycerin daripada biasanya).
Unstable angina tidaklah sama seperti serangan jantung, namun ia memerlukan kunjungan segera pada dokter anda atau departemen darurat rumah sakit karena pengujian jantung lebih jauh sangat diperlukan. Unstable angina seringkali adalah pendahuluan pada serangan jantung.

wikipedia.org

Copyright © 2013. Medical Line | Template by Full Blog Design | Proudly powered by Blogger
Medical Line